Metrotvnews.com, Jakarta: Polemik reklamasi Teluk Jakarta diprediksi akan berlanjut menjadi alat politik di pemilihan presiden (Pilpres 2019). Isu itu dapat digunakan untuk menurunkan pamor Presiden Joko Widodo.
 
Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago, mengatakan, isu reklamasi sudah terbagi menjadi dua kubu. Pertama, kubu yang didukung Amien Rais dan Prabowo Subianto. Kedua, kubu Menteri Koordinator Maritim, Luhut Binsar Pandjaitan, yang pro kepada pemerintah.
 
“Isu ini digunakan untuk menurunkan pamor Presiden Jokowi. Dua tahun waktu yang singkat, sehingga isu reklamasi sudah digunakan sejak sekarang ini,” kata Pangi, Senin 29 Mei 2017.
 
Menurut Pangi, isu reklamasi cukup efektif di Pilkada DKI 2017. Hal itu terbukti dengan merosotnya elektabilitas pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, sehingga kalah dari Anies-Sandi. “Isu reklamasi cukup memiliki pengaruh, sehingga terus berlanjut sampai sekarang,” katanya.
 
Diketahui, rencana penghentian reklamasi kencang dihembuskan kubu Anies-Sandi. Belakangan Amien Rais bahkan menantang Luhut untuk beradu data tentang manfaat reklamasi.
 
Jika tidak ada manfaatnya bagi warga Jakarta, terutama para nelayan di Teluk Jakarta, Amien mendesak pemerintah pusat tidak melanjutkan proyek tersebut.
 
Namun, banyak kalangan menilai penghentian reklamasi akan memunculkan dampak negatif terutama terhadap iklim investasi properti di Jakarta.
 
Prediksi ini semakin diperkuat dengan pernyataan anggota tim sinkronisasi Anies-Sandi, Marco Kusumawidjaja, yang menyatakan tidak akan membayar ganti rugi kepada para pengembang. Alasannya, pembangunan reklamasi menyalahi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Leave a Reply