JAKARTA,suaramerdeka.com – Berkali-kali Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa pertimbangan atau ukuran dilakukannya reshuffle kabinet adalah kinerja para menteri. Namun alasan penggantian para menteri karena kinerja justru dipertanyakan oleh publik, karena faktanya tidak pernah jelas. Demikian pendapat pengamat politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Pangi Syarwi Chaniago.

“Faktanya alasan reshuffle itu tidak pernah jelas. Kalau katanya kinerja, ada yang kinerjanya tidak bagus juga dipertahankan. Ada yang sudah dicopot karena alasan kinerja lalu diangkat lagi jadi Menteri seperti Ignasius Jonan. Juga ada yang sudah kena kasus dwi kewarganegaraan Arcandra juga tetap dipakai, dengan jabatan diturunkan jadi Wakil Menteri. Jadi kalau Presiden bilang alasannya objektif yaitu kinerja, bagi saya justru alasannya tidak jelas,” kata Pangi di sela diskusi di Pressroom Komplek Parlemen Senayan, siang ini.

Menurut dia, disisi lain juga ada reshuffle yang dinilai dengan alasan untuk memberi jatah bagi elit parpol yang parpolnya berubah haluan menjadi pendukung pemerintahan Jokowi-JK. Maka wajar bila muncul kekhawatiran, bila reshuffle kabinet dilakukan lagi oleh Presiden Jokowi, maka sebenarnya bukan karena pertimbangan kinerja, seperti yang selama ini dikatakan. Tapi lebih karena faktor-faktor lain, yang sangat subjektif Presiden Jokowi. Hingga terus menimbulkan spekulasi di publik.(Hartono Harimurti/SM Network)

Leave a Reply