SEBAGAIMANA Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 lalu, Partai Demokrat lagi-lagi nonblok alias netral, alias enggan berpihak ke kubu manapun dalam putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017. Keputusan itu sudah bulat dan resmi “dideklarasikan” pada Rabu 15 Maret lalu.

Padahal sebelumnya, para pendukung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)-Sylviana Murni yang notabene didukung penuh Partai Demokrat tapi kalah di putaran pertama, banyak yang ingin mengalihkan dukungan ke pasangan calon (paslon) lain.

Para simpatisan pendukung AHY-Sylviana, menjatuhkan pilihan mendukung paslon penantang Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Namun belakangan, muncul kabar politikus Demokrat Ajeng Sumina yang mendukung paslon petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.

Terkait hal ini, Partai Demokrat melalui Wakil Ketua Umum Roy Suryo, menyatakan bahwa partai berlambang bintang mercy ini membebaskan para kadernya untuk menjatuhkan pilihan mendukung siapa. Namun sikap resmi Partai Demokrat, adalah nonblok alias cuma akan jadi penonton di putaran kedua.

“Selama ini kita tahu tetap harus memilih, tapi dipersilakan ke masing-masing (kader). Kami netral, dalam istilah Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Umum Demokrat) itu nonblok. Tak memihak ke nomor 2 (Ahok-Djarot) dan 3 (Anies-Sandi),” tutur Roy di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Rabu 15 Maret.

“Kader bebas. Fatsunnya karena partai tak mengarahkan ke mana pun, itu tidak salah. Artinya, Demokrat sangat menjunjung tinggi dan menghormati hak demokrasi setiap kadernya. Enggak ada (kepentingan), kami berterima kasih kepada dukungannya selama ini,” imbuhnya.

(Baca: Nonblok di Putaran Kedua Pilkada DKI, Demokrat Tak Khawatir Terpecah Belah)

Sebelumnya, salah satu partai politik (parpol) yang sebelumnya mendukung AHY-Sylvi di putaran pertama, yakni Partai Amanat Nasional (PAN), sudah memutuskan mengalihkan dukungan ke Anies-Sandi. Lantas bagaimana dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)?

Untuk sementara keduanya justru cenderung beralih ke Ahok-Djarot. Nah, kemudian bagaimana tanggapan kubu Anies-Sandi atau Ahok-Djarot soal “Gerakan Nonblok” Demokrat?

Kubu petahana diwakili Djarot saat berkunjung ke Pulogadung, Jakarta Timur pada Kamis 16 Maret, menyatakan apresiasinya terhadap sikap Demokrat dan kebesaran hati AHY, terkait kebijakan membebaskan kadernya untuk memilih.

“Saya berikan apresiasi pada Pak Agus dan Partai Demokrat yang betul-betul serahkan ke hati nurani masing-masing,” cetus Djarot.

Hal senada juga diungkapkan Anies. “Kami menghargai dan kita berkeyakinan bahwa semua yang berada di jajaran pasangan calon nomor satu, tujuannya sama dengan kita yaitu menginginkan adanya perubahan di Jakarta. Menginginkan adanya kepemimpinan baru di Jakarta,” timpal Anies usai bertemu komunitas Tionghoa di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis 16 Maret.

“Jadi tentu sikap itu kita hargai, dan kita optimistis bahwa jajaran pendukung paham tentang sikap itu. Dan inshallah kami mengajak untuk mari teruskan perjuangan sama-sama bersama kita,” lanjutnya.

Sementara pengamat menilai keputusan Demokrat ini, justru akan merugikan mereka sendiri. “Karena nonblok itu enggak ada untungnya,” terang pengamat politik dari Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago dalam Diskusi Redbons Okezone.

“Dalam politik itu semestinya (memihak) seperti Pilpres kemarin (2014, nonblok), Demokrat apa untungnya hari ini? Jika PDIP puasa 10 tahun dan kehadiran PDIP merupakan antitesa SBY benar karna itu sikapnya, Kalau kalah itu resiko politik dan jika menang itu bonus,” tambahnya.

Setali tiga uang dengan pernyataan pengamat lainnya, Hendri Satrio. Pakar komunikasi politik itu mengungkapkan bahwa, keputusan netral di putaran kedua Pilkada DKI, cenderung untuk “main aman”.

“Sebetulnya sangat disayangkan karena pastinya konstituen Demokrat menginginkan kepastian mau ke mana, karena Demokrat selalu mengambang pada setiap kali bisa jadi ini merugikan Demokrat. Kalau ditanya apakah merugikan atau tidak, menurut saya iya (rugi),” sambung Hendri kepada Okezone, Jumat 17 Maret.

“Tapi mungkin dari segala macam perhitungan perhitungan keputusan ini yang paling sip buat Demokrat, sehingga pada saat pilpres 2019 misalnya, kans atau berkoalisi dengan salah satu pihak jadi artinya Demokrat bisa berkoalisi dengan beberapa partai pendukung Ahok dan bisa juga berkoalisi dengan beberapa partai pendukung Anies,” tandasnya.

Leave a Reply