SIAGAINDONESIA.COM Gelanggang politik kian ramai jelang perhelatan Pemilu serentak 2019 untuk pertama kalinya. Nama Panglima TNI Gatot Nurmantyo disebut-sebut punya aura politik yang bisa saja mengancam petahana.

Yah, saat ini Gerindra sudah menunjuk Boy Sadikin, putra Gubernur Jakarta Ali Sadikin, sebagai Ketua Tim Pemenangan Prabowo Subianto untuk Pemilihan Presiden 2019. Tapi yang membuat penasaran, siapa kandidat Wapres yang bakal digandeng Prabowo? Atau justru dia yang menjadi Capres nantinya?

Seorang yang dekat dengan lingkaran Partai Gerindra menyebutkan sejumlah elite nasional dan lokal sudah masuk dalam radar Prabowo. Nama yang beredar dan dalam proses lobi di antaranya Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Hanya saja, kata sumber tersebut, untuk memaksimalkan komposisi sipil-militer, nama Zainul Majdi yang lebih sering digaungkan oleh elite Gerindra.

“Tuan Guru Bajang (Zainul Majdi, red) sama Panglima TNI Gatot (Gatot Nurmantyo, red) masuk radar Pak Prabowo,” ungkapnya.

Saat dimintai konfirmasi soal loyalitas Zainul Majdi karena dia kader Demokrat, sumber itu tidak menjelaskan lebih rinci. Ia hanya menyebut jika nama Zainul Majdi yang sering disebut-sebut di internal Gerindra.

“Gak tahu (juga soal loyalitas Zainul Majdi ke Demokrat, red). Karena nama Tuan Guru itu disebut-sebut oleh elite Gerindra,” pungkasnya.

Peneliti The Political Literacy Institute Adi Prayitno mengatakan, aktivitas politik Gatot Nurmantyo saat ini kian terlihat agresif terkait kepentingan pemilihan presiden 2019. “Panglima TNI sepertinya ingin menjadi kandidat,” kata Adi, Sabtu (10/6/2017).

Menurut pengamatan Adi, dalam sejumlah agenda kegiatan, seperti seminar kebangsaan yang dilakukan kampus, organisasi masyarakat, termasuk partai politik, misalnya, Gatot terlihat agresif.

“Tak berlebihan kiranya jika agresifitas Gatot ini dibaca sebagai upaya memoles citra untuk mendulang insentif elektoral di Pilpres mendatang,” kata Adi.

“Tak ada asap jika tak ada api. Begitulah pepatah yang pas utk menggambarkan gerilya politik Gatot saat ini. Tak mungkin aktif blusukan jika tak ada maksud nyapres,” tambah Adi.

Namun manuver panglima Gatot ini sebut Adi, mendapat banyak sorotan negatif terutama menyangkut posisinya sebagai Panglima TNI. Selain itu publik masih trauma dengan keterlibatan TNI dalam politik yang melahirkan praktik politik yang represif dan otoriter.

Agresivitas Gatot untuk mengisi bursa Pemilu 2019 juga ditengarai menjadi penyebab Panglima mengumbar kasus korupsi Helikopter AW-101, termasuk memberikan tekanan kepada Angkatan Udara. Upaya ini dinilai sekadar pencitraan.

Dalam konteks pencitraan tersebut, muncul spekulasi bahwa Gatot sengaja membongkar beberapa kasus diantaranya tentang korupsi di tubuh TNI ini justru dapat mempermalukan Instutusi TNI karena tampak ada persaingan di internal TNI yang dikhawatirkan mengganggu profesionalisme matra.

“Spekulasi lain, ada persaingan atau kepentingan salah satu institusi TNI terkait suksesi orang nomer satu di tubuh TNI,” demikian Adi.

Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago berpendapat Gatot Nurmantyo bisa saja menjadi figur alternatif. Gatot punya peluang menjadi calon presiden yang kuat dalam pertarungan 2019.

Meski begitu, untuk bisa mendapatkan predikat presiden, setidaknya tiga syarat ini meski dilakukan Gatot. Pertama, tentu saja Gatot harus memiliki partai politik pengusung untuk maju atau dimajukan sebagai capres.

“Kedua, aspek finansial tentu harus ada sebagai amunisi dalam bertarung. Ketiga, citra dan prestasi dia selama menjabat,” ungkap Pangi melalui siaran pers di Jakarta, Jumat (9/6/2017).

Apabila tiga aspek itu terpenuhi, ujar Pangi, Gatot dapat menjadi antitesis dari Presiden Jokowi. Saat ini mau tidak mau, setelah Pilkada DKI, kekecawaan pendukung Ahok telah bermunculan kepada Jokowi.

Di sisi yang lain, Prabowo Subianto sebagai pemimpin oposisi, juga semakin solid setelah jagoannya Anies-Sandi tampil sebagai pemenang. Pada titik inilah Gatot muncul sebaga figur perekat, sekaligus calon alternatif di Pemilu 2019.

“Saya kira Gatot bisa diperhitungkan. Ia bisa menjadi lawan tanding yang seimbang, sekaligus sebagai sang penantang Jokowi,” pungkasnya.

Seperti diketahui, kekalahan PDIP dalam Pilkada DKI Jakarta  merupakan warning bagi Jokowi di pemilihan presiden 2019 mendatang.

Pengamat politik Universitas Al-Azhar Jakarta, Ujang Komarudin, menyebutkan kemenangan pasangan Anies-Sandi, berjalan beriringan dengan meningkatnya kekuatan politik Prabowo Subianto di satu sisi. Di sisi yang lain, konsolidasi kekuatan nonparpol juga semakin menguat seiring kekecewaannya terhadap pemerintahan Jokowi.

Kekuatan nonparpol, tidak hanya dari kelompok Islam saja, tetapi juga dari para pendukung Ahok. Bisa saja keduanya beralih pada Prabowo nantinya. Ujang menyebut Prabowo, saat ini telah menjadi ancaman bagi Jokowi di Pemilu 2019.

“Kemenangan Anies-Sandi, bisa jadi tanda kemenangan Prabowo 2019 nanti,” tutur Ujang saat dihubungi di Jakarta, Jumat (9/6/2017).

Dari segi peta politik, jelas Ujang, kehadiran para elite dan ketua parpol di rumah Prabowo saat perayaan kemenangan Anies-Sandi, adalah kunci konsllidasi sedang terbangun. Kekuatan tersebut seolah ingin diperlihatkan dan dilanjutkan pada Pilkada serentak 2018 nanti.

“Saat ini kan, kekuatan Prabowo sudah terlihat. Yang datang ke rumahnya itu ada Sohibul Iman, Zulkifli Hasan, Hary Tanoe, Aburizal Bakrie, dan elite lainnya. Itu sudah semacam konsolidasi 2019 nanti,” jelasnya.

Ujang pun menyarankan Jokowi agar mulai merumuskan strategi jitu dan mulai hati-hati mengantisipasi hal ini. “Jokowi harus bisa susun strategi mulai sekarang, karena ancaman itu sudah nyata,” paparnya

Leave a Reply