Jakarta, GATRAnews – Direktur Lembaga Kajian Politik Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago menilai, penetapan Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo sebagai tersangka merupakan langkah politis.

“Bagi saya ini bentuk pembunuhan karakter kepada Hary Tanoe, tentu ada lawan politik yang tidak senang. Sebagai Ketua Umum Partai, Hary Tanoe punya potensi cukup besar untuk memenangkan pemilu,” jelas Pangi di Jakarta, Jumat (7/6).

Pangi menyakini tidak ada unsur pidana dalam SMS berisi ancaman kepada Yulianto pada tanggal 5, 7, dan 9 Januari 2016 lalu. Alih-alih tampil sebagai panglima, hukum bak pisau yang digunakan penguasa untuk menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Apalagi pada Pilkada DKI Jakarta baru-baru ini, Partai Perindo berhasil mengantarkan salah satu pasangan calon dalam memenangkan pertarungan.

“Hukum ditaklukkan oleh realitas politik, kehendak politik yang ingin membungkam Hary Tanoe, pisau itulah yang sedang bermain dalam penegakan hukum, akhirnya hukum tidak jadi panglima, hukum jadi pemainan kekuasaan,” katanya.

Pangi juga mengingatkan agar Jaksa Agung bekerja kembali pada fitrahnya, yakni perjuangan dalam menegakan hukum. Tentunya sebagai benteng terakhir dalam mencari keadilan penegakan hukum.

“Nah sekarang justru terkonsentrasi pada hal-hal sepele seperti ini yang tidak ada untungnya bagi bangsa dan negara dan tidak ada ruginya untuk bangsa dan negara,” tuturnya.

Menurutnya, dengan diangkatnya perkara SMS itu ke ranah hukum telah membuat negara kehilangan substansi dalam bekerja.

“Saya kira ini bentuk kegagalan negara, karena gagal fokus dalam penegakan hukum yang seutuhnya masih banyak kasus yang belum tersentuh, bagaimana mungkin Polri sibuk pada hal ecek-ecek seperti ini,” demikian Pangi.

Leave a Reply