JAKARTA – Partai Golongan Karya (Golkar) masih “galau”. Sempat dikabarkan hendak mengusung Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil, Golkar kemudian membantah penyingkiran nama Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi dari bursa pencalonan gubernur.

Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago berpendapat, pencalonan Dedi Mulyadi merupakan hal yang juga penting bagi Golkar.

Faktor pertama, dikatakan Pangi adalah status politik Dedi yang merupakan kader penting di Golkar seharusnya jadi pertimbangan. Selain itu, posisi Dedi sebagai Ketua DPD Golkar Jawa Barat, dikatakan Pangi akan menambah nilai jual Dedi.

Meski sangat populer di kalangan kaum muda dan urban, posisi Ridwan Kamil yang bukan kader Golkar membuat posisi tawarnya lebih rendah dibanding Dedi. Terkait itu, Pangi mengingatkan Golkar untuk belajar dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang ia sebut harus membayar mahal pencalonan Ahok –yang ketika itu juga bukan kader asli partai– ke kontestasi Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu dengan kekalahan.

“Ketika itu kan PDIP juga begini. Mereka yang awalnya mencalonkan Djarot dengan Boy Sadikin yang notabene kader partai akhirnya memilih untuk memajukan Djarot dengan Ahok,” kata Pangi lewat sambungan telepon, Jumat (29/9/2017).

Menurut Pangi, keputusan PDIP ketika itu menyebabkan perpecahan di internal partai, terutama di DPD DKI Jakarta. Hal itu, tentu saja jadi faktor yang berpengaruh besar dalam langkah politik PDIP bersama Ahok di Pilkada DKI lalu.

“Ya kan itu terjadi perpecahan ketika itu di internal partai,” kata Pangi.

Leave a Reply