TEMPO.COJakarta – Nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mencuat dalam beberapa survei elektabilitas pemilihan presiden 2019. Anies digadang-gadang akan digandeng Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai pendampingnya di Pilpres 2019.

Bahkan, jika Prabowo memutuskan untuk menjadi King Maker alias tidak akan maju lagi menjadi calon presiden, Anies disebut-sebut sebagai calon kuat yang akan dimajukan Prabowo. Seberapa besar peluang Anies Baswedan di pilpres 2019?

Lembaga survei Alvara memaparkan Anies Baswedan sebagai tokoh yang paling diinginkan mendampingi Prabowo sebagai calon wakil presiden. Dalam survei itu, Anies diinginkan oleh 60 persen responden untuk dipasangkan dengan Prabowo.

Alvara melibatkan 2.203 responden dalam survei yang dilaksanakan pada 17 Januari–7 Februari 2018 di seluruh provinsi di Indonesia. Pendekatan yang digunakan ialah riset kuantitatif yang dilakukan dengan wawancara tatap muka dengan menggunakan kuesioner.

Nama Anies Baswedan sebelumnya juga disebut dalam hasil jajak pendapat lembaga survei Median. Dalam survei itu, elektabilitas Anies Baswedan naik dari 4,4 persen menjadi 4,5 persen.

Direktur Eksekutif Median Rico Marbun mengatakan elektabilitas Anies Baswedan naik karena dianggap berkepribadian baik, dan performa dalam kepemimpinannya juga dinilai baik. “Selain itu, masyarakat menilai Anies cerdas dan pintar,” kata Rico.

Adapun Direktur Eksekutif  Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago menilai potensi Anies di pilpres 2019 cukup baik jika melihat pertumbuhan elektabilitas dan  juga figure Anies yang media friendlyatau selalu disorot media. “Tapi semua keputusan tentunya ada pada Prabowo. Apakah akan mengusung  Anies sebagai capres atau cawapres,” kata Pangi. Apalagi melihat kalkulasi politik, menurut Pangi, elektabilitas Prabowo sudah stagnan alias jalan di tempat jika kembali head to head dengan Jokowi.

Adapun hasil survei Indo Barometer terbaru menunjukan, jika Jokowi dan Prabowo mencalonkan kembali, maka pilpres 2019 seakan mengulang seperti pilpres 2014. Dalam survei tersebut, Jokowi meraih dukungan publik 48,8 persen dan Prabowo 22,3 persen. “Jokowi akan melenggang mulus karena elektabilitas keduanya sudah terkunci atau deadlock,” kata Pangi.

Jika Prabowo berkaca pada beberapa kali kegagalannya di pilpres sebelumnya, kata Pangi, mungkin Prabowo akan mengambil keputusan seperti Megawati yang menyerahkan mandat pada Jokowi di pilpres 2019. “Barangkali bisa Gatot-Anies,” kata dia.

Namun untuk saat ini, menurut Pangi, Prabowo masih penasaran dan kemungkinan akan tetap maju sebagai calon presiden dan Partai Gerindra pun masih kukuh ingin mengusung Prabowo sebagai calon presiden. “Mungkin ini akan menjadi pertaruhan terakhir Prabowo,” ujar Pangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *