Jakarta, CNN Indonesia — Jakarta beberapa hari terakhir ini dihiasi dengan spanduk yang berbau suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Spanduk itu tersebar di berbagai sudut ibu kota, seperti jalan raya dan jembatan penyeberangan orang (JPO).

Direktur Eksekutif Voxpol Centre Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, memprediksi spanduk yang berbau SARA akan semakin gencar menjelang pemilihan putaran kedua pada 19 April mendatang. Isu SARA itu menurutnya sudah semakin tidak sehat pada gelaran Pilkada DKI Jakarta 2017.

“Kontes elektoral Pilkada DKI Jakarta sudah mengalami komplikasi tingkat agak serius, perangnya sudah asimetris,” kata Pangi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (6/4).

Bermula dari kemunculan spanduk program kerja 100 hari Gubernur DKI Jakarta, ‘Wujudkan Jakarta Bersyariah’ dengan latar belakang pasangan calon nomor urut tiga, Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Senin pagi (3/4).

Selain menampilkan sosok Anies-Sandi, spanduk yang berlatar belakang hijau itu turut menyematkan foto Ketua Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab di beberapa spanduk.

Tak berselang lama, sore harinya Anies dan tim advokasi langsung menyatakan bahwa spanduk itu merupakan bagian fitnah yang kembali datang.

Secara terpisah, Sandiaga juga menyebut telah memerintahkan relawan Anies-Sandi untuk mencabut spanduk tersebut. Alhasil, spanduk yang tersebar di beberapa titik itu, dicopot relawan dan juga Bawaslu hingga Satpol PP.

Perang Spanduk SARA Jelang Pemungutan Suara
Spanduk ‘Jakarta Bersyariah’ yang dianggap sebagai fitnah terhadap Anies-Sandi. (Dok. Tim Anies-Sandi)

Sementara itu, Rabu (5/4) pagi juga mulai muncul spanduk yang kembali dengan latar belakang hijau bertuliskan ‘Warga Jakarta Sudah Bosan dengan Isu SARA’ di tempat-tempat strategis, terutama di JPO.

Berbeda halnya dengan spanduk ‘Wujudkan Jakarta Bersyariah’, spanduk itu tidak menampilkan foto pasangan calon manapun.

Hingga kini, tidak ada pihak yang menyatakan bertanggungjawab atas kedua spanduk tersebut. Kejadian itu sama halnya dengan spanduk yang sempat ramai terkait larangan menyalatkan jenazah bagi orang yang tidak memilih pemimpin muslim.

Menurut Pangi, persebaran dua spanduk berbeda itu akan sulit dideteksi. Dia menilai, orang akan sulit membedakan siapa yang memainkan peran sebagai korban atau penyebar.

Terlepas dari itu, Pangi berpendapat keberadaan spanduk tidak akan mempengaruhi elektabilitas para calon. Hal itu terbukti saat petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang sejak putaran pertama terjerat kasus hukum dugaan penistaan agama di pengadilan.

“Jangankan spanduk, demo ratusan dan jutaan terhadap Ahok tetap tidak berpengaruh. Tetap saja Ahok merajai Pilkada putaran pertama,” ucapnya.

Pangi menduga ada aktor di luar struktur tim sukses maupun relawan kedua pasangan calon yang sengaja mendompleng isu SARA sebagai komoditas politik dengan kepentingan tertentu.

Perang Spanduk SARA Jelang Pemungutan SuaraSpanduk penolakan menyolatkan jenazah penista agama di dua sisi depan Masjid Al-Jihad, Jakarta. (CNN Indonesia/Marselinus Gual)

Hal itu, kata dia, kemudian berimbas dengan terjebaknya tim Anies-Sandi maupun Ahok-Djarot dalam isu seputar SARA. “Tim Anies dan Ahok juga belakangan terjebak dan mulai sama-sama masuk ke zona berbahaya yaitu wilayah SARA, terpancing dan bukan tidak mungkin kecemplung isu SARA,” ucapnya.

Dia pun mengimbau agar pihak yang merasa difitnah, seperti Anies-Sandi melacak aktor pemasang spanduk tersebut. Aparat kepolisian juga dinilai lalai dalam mengambil tindakan dari spanduk ini.

“Menjadi aneh polisi juga lalai untuk menangkap aktor pelaku SARA tersebut sehingga yang terjadi prasangka atau siraman energi saling tuduh,” katanya.

Terlepas dari itu, Pangi meyakini isu SARA juga tidak akan berpengaruh terhadap warga Jakarta. “Saya kira, rakyat Jakarta sudah membuang SARA ke sungai. Pemilih rasional lebih banyak dibanding pemilih sosiologis. SARA hanya memecah dan menganggu trayek kebinekaan kita,” kata dia.

Leave a Reply