Jakarta, CNN Indonesia — Ajang pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak akan kembali berlangsung tahun depan. Kali ini, terdapat 171 daerah di tingkat kabupaten/kota dan provinsi, yang akan menyemarakan geliat pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Dari 171 daerah yang mengikuti Pilkada serentak 2018, 17 di antaranya berada di level provinsi, termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketiganya mendapat sorotan lebih di luar Papua yang juga ikut menyelenggarakan pemilihan gubernur.

Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, ketiga provinsi itu ditambah Banten, mendapat perhatian lebih dari partai politik karena dinilai berpengaruh untuk menghadapi gelaran pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

“Sebab, provinsi tersebut termasuk wilayah prioritas kantong-kantong suara (zona primer),” kata Pangi kepada CNNIndonesia.com, Kamis (10/8).

Pangi memprediksi, ketiga provinsi itu akan kembali mempertontonkan pertarungan antara poros partai pendukung Joko Widodo dan Prabowo Subianto meski keduanya belum mendeklarasikan diri untuk maju kembali di 2019.

Saat Pilpres 2014 lalu, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla berhasil mengalahkan Prabowo-Hatta Rajasa di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Jokowi-JK mendulang kemenangan telak di Jawa Tengah dengan perolehan suara 12.959.540 atau 66,65 persen, unggul atas Prabowo-Hatta yang hanya meraih 6.485.720 atau 33,35 persen suara.

Sementara di Jawa Timur, Jokowi-JK unggul tipis dengan 11.669.313 atau 53,17 persen dari Prabowo-Hatta yang memperoleh 10.277.088 atau 46,83 persen suara.

Kemenangan di dua provinsi itu tak merembet ke Jawa Barat. Di Tanah Pasundan, Prabowo-Hatta lah yang memenangkan pertarungan dengan 14.167.381 atau 59,78 persen, sementara Jokowi-JK yang hanya mendapat 9.530.315 atau 40,22 persen suara.

Saat Pilpres 2014 wilayah Jawa Barat dipimpin oleh duet Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar yang diusung poros Gerindra dan PKS, sementara Jawa Tengah yang dimenangkan Jokowi dikepalai oleh Gubernur Ganjar Pranowo dan wakilnya, Heru Sudjatmoko.

Dari gambaran itu, penguasaan suatu daerah jelas memengaruhi kemampuan partai dalam meraih kemenangan di Pilpres. Pengecualian mungkin berlaku untuk Jawa Timur yang dipimpin oleh Soekarwo-Saifullah Yusuf.

Soekarwo-Saifullah saat itu diusung Demokrat, Golkar, PAN, PKS, PPP, Hanura, Gerindra, PKNU, PDS, PBR. Meski demikian, Jokowi-JK ternyata mampu mengalahkan Prabowo-Hatta di provinsi tersebut.

Peta politik itu akan segera berubah di Pilgub 2018 nanti. PDIP mungkin saja tak lagi memimpin Jawa Tengah, begitupun dengan Gerindra dan PKS di Jawa Barat.

Partai-partai yang sebelumnya menang, bisa saja terjungkal. Namun, Pangi menilai hal itu kemungkinan besar tak akan memengaruhi polaritas partai kubu Jokowi dan kubu Prabowo di Pilgub 2018 di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Hal ini terlihat dari potensi kebersamaan Golkar-PDIP dan Gerindra-PKS di tiga provinsi tersebut. Konsolidasi untuk menentukan yang akan maju mulai mengarah positif seperti yang terjadi di Jawa Barat, di mana Golkar-PDIP hampir pasti mengusung Dedi Mulyadi dan Gerindra-PKS mengusung Deddy Mizwar.

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, meski masih menggodok nama-nama seperti Ganjar Pranowo, Sudirman Said, Saifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa, nama-nama itu berpotensi dipilih dua poros tersebut dan diikuti gerbong partai pendukungnya.

Tahapan pendaftaran bakal pasangan calon akan resmi dibuka KPU pada Desember mendatang.

Patut disimak apakah Pilgub 2018 akan benar-benar memperlihatkan poros pendukung Jokowi dan Prabowo seperti halnya di DKI Jakarta, atau peta politik masih cenderung abu-abu hingga menjelang Pilpres 2019.

Leave a Reply