Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai, uang dan program bukan jaminan bagi caleg untuk terpilih.

“Yang penting pandai membaca selera apa yang disenangi, dibutuhkan atau disukai rakyat, disenangi perempuan dan emak emak,” katanya.

Nasib tak mujur juga dialami caleg perempuan PSI, Grace Natalie dan Tsmara Amany yang meski meraih suara terbanyak tapi gagal jadi anggota DPR RI, karena suara partainya tak memenuhi syarat ambang batas parlemen (parlementary threshold) 4 persen.

Grace Natalie yang maju di dapil Jakarta III meraih 179.949 suara, terbanyak dibandingkan caleg lain. Sedangkan Tsamara Amany meraup 103.599 suara dari dapil Jakarta II.

Tapi, PSI keseluruhan hanya mendapat 2.650.361 suara atau 1,89 persen.

Direktur Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini menilai, pemberlakuan parlementary threshold 4 persen jadi salah satu penghambat caleg perempuan masuk DPR.

“Mereka yang berpotensi ke parlemen bisa terhambat karena partai politiknya tidak lolos,” katanya.

Beberapa caleg perempuan dari partai baru seperti PSI dan Perindo dinilai potensial lolos, tapi terganjal suara partai yang tak sampai 4 persen.

Dari 16 partai politik nasional peserta Pemilu 2019, hanya sembilan yang bisa mengirimkan wakilnya ke parlemen.

PDIP di peringkat pertama dengan 27.053.961 suara atau 19,33 persen. Disusul Gerindra 17.594.839 (12,57 persen), Golkar 17.229.789 suara (12,31 persen), PKB 13.570.097 suara (9,69 persen), Nasdem 12.661.792 suara (9,05 persen), PKS 11.493.663 suara (8,21 persen), Demokrat 10.876.507 suara (7,77 persen), PAN 9.572.623 suara (6,84 persen) dan PPP 6.323.147 suara (4,52 persen).

Tujuh lagi gagal yakni Perindo 3.738.320 suara (2,67 persen), Berkarya 2.929.495 (2,09 persen), PSI 2.650.361 (1,89 persen), Hanura 2.161.507 (1,54 persen), PBB 1.099.848 (0,79 persen), Garuda 702.536 (0,50 persen) dan PKPI 312.775 (0,22 persen).