JAKARTA – Kecemasan Partai Golkar terpuruk pada Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019 dinilai menjadi latar belakang munculnya desakan pemberhentian sementara Setya Novanto.

Kehawatiran itu muncul setelah sejumlah lembaga survei meluncurkan hasil survei yang menunjukkan anjloknya elektabilitas Golkar akibat diterpa isu kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) yang melibatkan Setya Novanto.

“Anjloknya hasil survei terkait elektibilitas Partai Golkar. Saya kira wajar DPP Golkar ingin menyelamatkan partai agar kapal Golkar tidak tenggelam di bawah nahkoda Setya Novanto,” kata Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago saat kepada SINDOnews, Kamis (28/9/2017).

(Baca juga: Rapat Pleno Golkar Usulkan Setya Novanto Nonaktif)

Pangi mengakui, tren dukungan politik terhadap Novanto semakin melemah. Pendukung orang nomor satu di Partai Golkar yang selama ini all out, mulai berhitung ulang.

“Oksigen (kekuatan-red) politik Setya Novanto mulai berkurang,” kata Pangi.

Pangi pesimistis suara Golkar akan melejit apda tahun 2019 apabila partai berlambang pohon beringin itu masih dinahkodai oleh figur yang punya beban moral dan bermasalah.

Menurut dia, tidak ada pilihan bagi Golkar sedang membutuhkan suplemen dan oksigen politik baru, yang bisa memompa animo kepercayaan diri kader-kader Golkar dari tingkat akar rumput sampai pusat.

“DPP pasti sudah memutuskan dengan pertimbangan yang matang dan tidak asal suruh mundur,” ucap Pangi.

Leave a Reply