Jakarta – Tingginya elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden harus diimbangi dengan memilih sosok pendamping ideal.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, ada enam variabel yang harus diperhatikan dalam memilih sosok pendamping Jokowi.

Variabel pertama merupakan kriteria atau latar belakang tokoh yang akan digandeng. ‎Bisa dari konteks latar belakang, jam terbang, dan kapasitas.

“Representasi yang punya kemampuan di bidang ekonomi seperti Sri Mulyani, tokoh militer seperti AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) dan Gatot Nurmantyo, kepala daerah sukses seperti Tuan Guru Bajang dan Ahmad Heryawan, juga representasi santri yang memiliki partai politik seperti Cak Imin dan Rohamurmuziy,” kata Pangi, Senin (26/2).

Tambahan di variabel ini adalah elite partai politik yang memiliki hak otoritas dalam mengubah, menolak, menyetujui, dan membuat kesepakatan politik. ‎

Variabel kedua adalah representasi basis parpol pengusung. Karena, biasanya partai pengusung akan mendorong kadernya sendiri. Hal ini harus diperhatikan agar Jokowi nyaman dengan pendampingnya kelak.
‎‎
Variabel ketiga adalah racikan elektoral cawapres yang melingkupi popularitas, akseptibilitas, dan elektabilitas. Sosok pendamping harus bisa memberikan nilai tambah untuk faktor-faktor itu.

“Jangan sampai, pemilihan sosok pendamping justru malah menggembosi elektabilitas Jokowi yang sudah baik,” kata Pangi.‎

Variabel keempat, adalah cawapres yang merupakan representasi wilayah. Belajar dari pengalaman, Jokowi sukses meraih suara di Indonesia bagian Timur karena menggandeng Jusuf Kalla saat pemilu 2014.

“Saya pikir itu sebagai pilihan dan keputusan politik yang cukup jitu dan keren abis pada waktu itu,” kata Pangi.

Variabel kelima adalah faktor kenyamanan. Jokowi harus dipasangkan dengan sosok yang memiliki kesamaan. Jangan sampaikan, kedua sosok ini justru terkesan bersaing untuk lebih menonjol. Hal ini tentu tidak sehat untuk pemerintahan. ‎

Keenam, partai pengusung juga harus memerhatikan segmen pemilih dari capres dan cawapres. Cawapres yang ditunjuk sebaiknya memiliki basis massa yang berbeda dengan Jokowi.

“Kombinasi ideal yaitu nasionalis-relijius. Misalnya Jokowi dengan basis ideologi nasionalis, maka mesti menggandeng calon wakil presiden dari basis religius,” kata Pengajar Ilmu Politik itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *