REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Joko Widodo sudah resmi menjadi calon presiden (capres) PDI Perjuangan yang diumumkan pada Rakernas di Bali akhir pekan ini. Direktur Eksekutif lembaga kajian Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, menilai Jokowi tampil sebagai calon kuat yang untuk menyainginya harus dimunculkan calon presiden alternatif.

Pangi mengatakan, koalisi PKS dan Gerindra membutuhkan sosok baru untuk dijadikan capres alias capres alternatif. Hal itu diperlukan, jelas dia, untuk menyaingi Joko Widodo yang bakal didukung beberapa parpol besar.

“Maka di sinilah diperlukannya calon alternatif, bisa saja Gerindra-PKS mengusung Gatot Nurmantyo-TGB (Tuan Guru Bajang — M Zainul Majdi), atau Gatot-Anies Baswedan,” kata Pangi, Ahad (25/2).

Menurut dia, saat ini mereka sedang menggodok sosok baru karena jika tidak muncul capres alternatif, mereka bisa kesulitan melawan Jokowi. Pangi mengutip perkataan dari salah satu kader Partai Gerindra bahwa Prabowo Subianto belum tentu maju sebagai capres merupakan sinyal adanya sosok baru.

Selain itu, ini juga sebagai “kode” bahwa tidak menutup kemungkinan Prabowo bakal jadi “king maker”. Karena memang, kata Pangi, pertumbuhan elektoral Prabowo sudah tidak ada, bahkan sudah klimaks.

“Karena memang orang juga sudah jenuh juga. Apalagi hasil survei masyakarat menginginkan sosok baru, mungkin di luar Jokowi dan Prabowo,” terang Pangi.

PKS dan Gerindra kemungkinan besar tetap dalam satu rel koalisi. Sementara PKB, PAN, Demokrat masih belum pasti atau justru mereka akan membuat poros baru.

Pangi menyatakan, jika Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dirangkul Jokowi, maka Demokrat pasti bergabung poros PDI Perjuangan. Demikian juga dengan PKB, kalau digandeng dengan Jokowi, pasti bakal bergabung ke poros tersebut.

“Tapi kalau PAN saya lihat cenderungnya ikut PKS-Gerindra. PAN juga sudah punya kedekatan dengan PKS Gerindra. Maka tiga poros sangat mungkin terulang,” jelas Pangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *